Jumat, 12 Juni 2020

sosiologi


Nama               : Nur Laili
Nim                 : B01219044

KOMUNIKASI DALAM MASYARAKAT

A.  Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi dalam masyarakat komunikasi merupakan ilmu sosial yang memiliki kajian yang cukup luas. Ada beberapa pengertian komunikasi menurut beberapa ahli:
1.    Anderson berpendapat komunikasi adalahsuatu proses dengan mana kita bisa memahami dan di pahami oleh orang lain.
2.    Borelson dan stiner berpendapat bahwa komunikasi proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain menggunakan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain.
3.    Omong ochyana berpendapat bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).  
Sedangkan Soerjono Soekamto memberikan pengertian masyarakat menurut beberapa ahli diantaranya yaitu Ralph linton berpendapat bahwa masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengetahui diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
Sedangkan Selo Soemarjan berpendapat bahwa masyarakat merupakan orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.   Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi dalam masyarakat merupakan proses penyampaian informasi, ide atau gagasan kepada orang atau suatu kempok untuk membuat kelompok tersebut menjadi suatu kesatuan yang saling berkaitan atau berinteraksi dengan baik dan saling gotong royong untuk menghasilkan hal yang baru dalam suatu masyarakat tersebut.
B.  Proses Komunikasi Dalam Masyarakat
Poses komunilasi dalam masyarakat ada dua yaitu primer dan sekunder. Proses komunikasi dalam masyarakat secara primer merupakan interaksi yang tidak terpisah tidak terpisah secara fisik atau tanpa alat perantara. Artinya komunikasi tersebut secara indrawi dapat dirasakan sebagai sebuah kehidupan nyata, dimana hubungan-hubungan sosial sesama anggota masyarakat dibangun melalui penginderaan, individu atau masyarakat membangun interaksi maupun komunikasi secara langsung. Yaitu pola komunikasi tatap muka baik secara individu dengan individu maupun individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.
Sedangkan komunikasi dalam masyarakat sekunder yaitu komunikasi yang menggunakan saluran media. dalam proses ini, alat telematika media tumpuan dasarnya dimana mereka saling terkoneksi lewat perantara jaringan komputer dan internet. Insert jaringan ini merujuk pada hubungan sosial individu, kelompok maupun masyarakat yang tercipta di dalam ruang-ruang yang lebih luas, yang mencakup didalamnya ruang televisi, film, video, dan media komunikasi publik mutakhir lainnya.
Contoh dari komunikasi masyarakat sekunder diantaranya seperti komunikasi massa. Komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi. Pool berpendapat bahwa komunikasi masa merupakan komunikasi yang berlangsung dalam situasi interposed ketika atara sumber dan penerima tidak terjadi kontak secara langsung, pesan-pesan komunikasi mengalir kepada penerima melalui saluran-saluran media masa, seperti surat kabar, majalah, radio, vilem, atau televisi.
C.  Fungsi Komunikasi Massa
Media massa telah lama melayani kebutuhan hidup manusia modern, baik itu berkaitan dengan pemenuhan layanan informasi ataupun berkaitan dengan hiburan. Media massa sendiri difungsikan oleh manusia sebaga sarana menjaga peradaban agar lebih baik, berkualitas dan berkesinambungan.
Media massa juga dapat memberi keuntungan bagi masyarakat sehingga dinamakan fungsi positif, namun juga bisa mengandung fungsi negatif (disfungsi) yang bisa mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Para ahli komunikasi massa membedakan fungsi komunikasi massa bagi masyarakat dan bagi individu:
1.      Fungsi bagi masyarakat.
a.       Informasi
b.      Korelasi
c.       Kesinambungan
d.      Hiburan
e.       Mobilisasi
2.      Fungsi bagi individu
a.       Informasi
b.      Identitas pribadi
c.       Integrasi dan interkasi sosial
d.      Hiburan
Fungsi komunikasi dalam masyarakat yang pertama yaitu komunikasi dapat membangun kerjasama dalam suatu masyarakat, yang kedua komunikasi si dapat berfungsi dalam berinteraksi sesama masyarakat, yang ketiga komunikasi dapat dibuat atau digunakan Kan sebagai suatu sarana upacara atau ritual adat, yang keempat komunikasi dapat menjadi instrumen untuk mencapai suatu tujuan.
D.  Peran Komunikasi Dalam Masyarakat
Peran komunikasi dalam masyarakat adalah sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik antara individu dengan individu antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok peran komunikasi selain itu komunikasi dalam masyarakat memiliki peran sebagai sarana informasi dan sebagai sarana motivasi di dalam suatu masyarakat.
E.   Dampak Komunikasi Dalam Masyarakat
Dampak komunikasi dalam masyarakat ada tiga yang pertama yaitu memberikan informasi, meningkatkan pengetahuan, menambah wawasan. Tujuan ini sering disebut tujuan yang kognitif 2 menumbuhkan perasaan tertentu, menyampaikan pikiran, ide atau pendapat. Tujuan ini sering disebut dengan tujuan afektif. 3 mengubah sikap, perilaku dan perbuatan. Tujuan ini sering disebut dengan tujuan psikomotorik.

DAFTAR PUSTAKA

Halik, Abdul. 2013. “Dasar Komunikasi Massa”, Makasar: Uin Alauddin Press.
Mahyuddin, 2019, “Sosiologi Komunikasi Dinamika Sosial Didalam Era Firtualitas”, Makasar:                           Cv. Loe.
Romli, Khomsahrial. 2018. “Komunikasi Massa”. Jakarta: PT. Grasindo.
Suprapto, Toni. 2009, “Pengantar Teori Dan Menejemen Komunikasi”, Yogyakarta: Medpress.
Wiyanto, 2000, “Teori Komunikasi Massa”. Jakarta: Gramedia Widiasarana.

Sabtu, 30 November 2019


HIDUP SEHAT
DENGAN SHOLAT

PENDALAMAN TERAPI SHOLAT BAHAGIA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Shalat sebagai syariat utama yang diwajibkan bagi setiap muslim yang berakal dan balig. Shalat memiliki rentetan yang mengandung hikmah luar biasa besar bagi orang yang mendirikannya. Hikmah ini di antaranya sangat bermanfaat bagi kesehatan. Hal ini telah dibuktikan secara empiris dan didukung oleh teori-teori ilmu kedokteran klasik dan modern. Seperti apakah pengaruh shalat bagi kesehatan?
Pengaruh dan manfaatnya sudah dimulai dari aktivitas wudhu. Berbagai titik saraf pada anggota badan yang dibasuh wudhu telah mendapatkan basuhan dan usapan yang sangat baik. Titik-titik tersebut terhubung ke seluruh jaringan tubuh lainnya sehingga memiliki efek manfaat, seperti melancarkan peredaran darah dan stimulasi saraf. Banyak hal negatif yang dapat dicegah hanya dengan berwudhu ini, seperti timbulnya penyakit dan menumpuknya kuman serta kotoran.
Setelah itu, ketika Anda melakukan shalat dengan berbagai gerakan yang sempurna, di sini Anda akan langsung melakukan olah fisik. Gerakan-gerakan shalat menggerakkan beberapa sendi penting dan timbulnya aktivitas organ-organ tertentu yang sangat baik bagi kesehatan. Mulai dari gerakan takbir, rukuk, duduk, sujud, hingga salam. Contohnya, di saat Anda bersujud, akan menciptakan aliran darah di otak secara elastis pada pembuluh darah, terutama pembuluh-pembuluh kapiler atau pembuluh rambut yang ukurannya kecil.
Manfaat nyata dari gerakan sujud ini dapat mencegah stroke. Alasannya, stroke terjadi jika terdapat pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah, sehingga otak mengalami gangguan dan mengakibatkan kelumpuhan. Dengan melatih elastisitas melalui banyak bersujud, pembuluh darah akan semakin normal dan seimbang sesuai kapasitas darah dan oksigen yang dibutuhkan otak. Di antaranya mencegah hambatan oleh plak atheroma yang dapat mengurangi elastisitas pembuluh darah. Kejadian ini biasanya diderita oleh hiperkolesterol
Banyak orang mengeluh dalam hidupnya. Baik menyangkut masalah ekonomi atau keuangan, bisnis, pekerjaan, kesehatan, istri, suami, anak, dan sebagainya. 
Begitu menghadapi masalah, yang pertama mereka pikirkan adalah mencari solusi kepada manusia. Misalnya dokter atau bahkan paranormal untuk mengobati penyakit; bertanya kepada psikolog atau psikiater untuk mencari jawaban terhadap persoalan yang menimpa keluarganya; atau mencari ahli keuangan untuk mengatasi masalah bisnisnya.

Mengapa mereka tidak datang kepada yang Maha Memberikan solusi atas setiap permasalahan kehidupan? Dialah Allah SWT. Dialah Tuhan yang telah berjanji dalam Alquran, bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah SWT akan memberikan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang dihadapinya dan menganugerahkan rezeki kepadanya dari pintu yang tidak diduga-duga.

Nah, untuk mendatangi Allah SWT, cara yang utama adalah shalat. Dalam menghadapi persoalan apa pun, sebelum melakukan ikhtiar yang lain, shalatlah terlebih dahulu. Penuhilah kewajiban shalat fardhu yang lima waktu, dan perbanyaklah shalat-shalat sunah. Sesungguhnya shalat adalah obat segala persoalan kehidupan. 

Itulah inti utama buku yang merupakan kumpulan tulisan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”. Melalui berbagai pemaparan dalam buku ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat membawa hikmah dan manfaat yang sangat besar dalam menjaga pola hidup sehat. Sehat jasmani dan rohani, fisik dan psikis merupakan modal utama untuk meraih hidup sukses dan bahagia.

Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:

1.                  Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

2.    Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.

3.                  I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.

4.    Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

5.    Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

6.    Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.

Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.

Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.

Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.

Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

Nah kalau sudah menerapkan gaya hidup sehat, mewujudkan Indonesia menuju negara dengan kesadaran kesehatan lebih tinggi bukanlah sebuah impian. Mari sembuhkan Indonesia dengan memulai gaya hidup sehat untuk hidup yang lebih bahagia.

Nur Laili
Surabaya, 30 November 2019

Kamis, 03 Oktober 2019

Nur Laily


   MAKALAH MATA KULIAH
STUDI AL-QURAN
MUKJIZAT AL-QUR’AN
(Perspektif Bahasa)

 


Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz. M.Ag
Asisten Dosen:
Atik Nur Syafaah M.Kom
Disusun Oleh:
Nur Laili (B01219044)

PROGRAM STUDI 
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM 
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN AMPEL SURABAYA 
2019


KATA PENGANTAR


Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah swt karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat beliau.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an.  Seperti diketahui bersama, Al-Qur’an sebagai kitab suci umat islam tidak pernah habis dibacakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang mukjizar al-Qur’an,khususnya dari  perspektif bahasa.
Saya mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi Al-Qur’an, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terimakasih juga saya ucapkan kepad pihak yang telah membantu selama proses pembuatan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Surabaya, 02 September 2019


   Nur Laili


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR   
DAFTAR ISI    
BAB I PENDAHULUAN        
A.   Latar Belakang     
BAB II PEMBAHASAN        
A.  Mukjizat Al-Qur’an (Perspektif Bahasa)    
B. Keajaiban Susunan Bahasanya      
C.  Sejarah Ahli Bahasa Menandingi Al-Qur’an  
BAB II PENUTUP       
KESIMPULAN      
DAFTAR PUSAKA     


BAB I

PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Kata mukjizat diambil dari bahasa arab a’jaza-yu’jizu-i’jāz yang berati melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz danpihak yang mampu melemahkan pihak lain sehingga mampu membungkam lawan, maka ia dinamakan mukjizat. Tambahan ta’ marbūthah pada akhir kata itu mengandung makna mubālaghah (superlatif). Mukjizat didefinisikan oleh pakar agama Islam, antara lain, sebagai suatu hal yang luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku sebagai nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditentangkan kepada yang ragu. Sampai saat ini tidak ada kesepakatan ulama dalam menetapkan aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an. Namun demikian, aspekaspek kemukjizatan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam tiga hal, yaitu aspek kebahasaan, berita ghaib, dan isyarat ilmiah.[1]
Yang dimaksud dengan kemukjizatan Al-Qur’an bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian melemehkan yang sebenernya, artinya memberi pengertian melemahkan yang sebenarnya, arti memberi pengertian kepada mereka dengan kelemahannya untuk mendatangkan ungkapan yang menyamai Al-Qur’an, maksudnya adalah untuk menjelaskan bahwa kitab ini benar atau tidak, dan Rasul yang membawanya adalah Rasul yang benar. Begitulah mukjizat nabi dimana manusia lemah untuk menandinginya.[2]

BAB II

PEMBAHASAN


A.  Mukjizat Al-Qur’an

Jika kita berkata “mukjizat Al-Qur,an”, ini berarti bahwa mukjizat (bukti kebenaran) adalah bukti yang dimiliki atau yang trdapat di dalam Al-Qur,an, bukannya kebenaran yang datang dari luar Al-Qur,an atau faktor luar. Pada bab sebelum ini, setelah di kemukakan apa yang dimaksud dengan”mukjizat”. Kini, akan kita bahas apa itu Al-Qur’an.
Al-Qur,an biasa di defisinikan sebagai firman-firman Allah yang di sampaikan oleh malaikat Jibril sesuai dengan redaksinya kepada nabi Muhammad saw, dan di terima oleh umat islam secara tawatur.[3]

B.  Keajaiban Susunan Bahasanya

Dari segi kebahasaan dan kesastraannya al-Qur’an mempunyai gaya bahasa yang khas dan sangat berbeda dengan Bahasa masyarakat Arab, baik dari pemiliha hurufdan kalimat yang keduanya mempunyai makna yang dalam. Usman bin Jinni seorang pakar bahasa Arab, sebagaimana dituturkan Quraish Shihab mengatakan bahwa pemilihan kosa kata dalam bahasa Arab bukanlah suatu kebetulan melainkan mempunyai nilai filsafah Bahasa yang tinggi.[4]
Gaya bahasa yang digunakan al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa yang sering digunakan oleh orangorang Arab. Gaya Bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu kaguma dan terpesona. Walaupun Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, kalimat demi kalimat mengandung unsur sastra yang sangat baik namun tetap mudah dipahami tanpa mengurangi sedikitpun kandungan misteri di dalamnya. Hal tersebut karena keistimewaan aspek gaya Bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an. Bahkan, Umar bin Khathab pun yang mulanya dikenal sebagai seorang yang paling memusuhi Nabi Muhammad SAW dan bahkan berusaha untuk membunuhnya, memutuskan untuk masuk Islam dan berima pada kerasulan Muhammad hanya karena membaca petikan ayat-ayat Al-Qur’an.[5]
Uraian singkat tentang aspek kemukjizatan Al-Qur’an dari segi susunan bahasanya yang indah dalam Al-Qur’an tidak bias disamakan oleh apapun karena Al-Qur’an bukan susunan syair dan bukan pula susunan prosa. Namun ketika Al-Qur’an dibaca, maka ketika itu terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama ritmenya. Cendekiawan Inggris, Marmaduke Pickthall dalam the meaning of glorius Quran, menulis “Al-Qur’an mempunyai simfoni yang tidak ada taranya di mana setiap nada-nadanya bias menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita.”[6]
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab sendiri mempunyai banyak keistimewaan, antara lain:
1.    Bahasa Arab umumnya mempunyai akar kata tiga huruf mati seperti qala dari qof-wau-lam, kalam dari kaf-lam-mim, dan kitab dari kaf-ta’-ba’.
2.    Bunyi sangat menentukan dalam bahasa arab karena perubahan bunyi akan menyebabkan perubahan arti.
3.    Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya kosakata dan sinonimnya.
4.    Bahasa Arab juga memiliki kata bahasa yang rinci dan detail.[7]

C.      Sejarah Kegagalan Ahli Bahasa Dalam Menandingi Bahasa AL-Qur’an. 

Keajaiban al-Qur’an berbeda dengan keajaiban yang lain. Keajaiban al-Qur’an bersifat mukjizat sehingga tidak ada satupun karya ilmiyah atau sastra bahasa manusia yang mampu menandingi al-Qur’an. Al-Qur’an adalah mukjizat yang didalamnya terdapat petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. karena itu, al-Qur’an sebagai mukjizat tidak akan dapat ditiru oleh siapapun, meskipun manusia itu mengerahkan semua ahli sastranya.[8]
Sejarah membuktikan bahwa bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an telah mencapai tingkat kelebihan yang belum pernah di capai oleh bangsa satu pun yang ada di dunia. Mereka memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa di capai orang lain, seperti kemahiran dalam berpuisi, syi’ir atau prosa (natsar), memberikan penjelasan dalam langgam sastra. Mereka juga telah meramba jalan yang belum pernah di injak orang lain dalam kesempurnaan menyampaikan penjelasan (al- bayan) keserasian dalam menyusun kata-kata, serta kelancaran logika.
kelembutan lafadz-lafadz Al-Qur’an mempunyai daya Tarik dan mengagumkan, yang Nampak dalam susunan suara dan keindahan bahasanya. Di maksudkan dengan susunan suara ialah susunan dan rangkaian Al-Qur’an dalam harakat dan bacaan sukunnya, seluruh susunannya itu amat mengagumkan , memikat pendengaran dan menawan hati, dengan mempergunakan suatu metode yang tidak bisa dicapai oleh kalam apapun, baik puisi maupun prosa.[9]
Sejarah menyaksikan, bahwa ahli-ahli bahasa telah terjun ke dalam vestival Bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang berani memproklamirkan dirinya tentang Al-Qur’an, melainkan dia hanya dapat kehinaan dan kekalahan. Bahkan sejarah mecatat, kelemahan bahasa  ini terjadi justru pada kejayaannya dan kemajuannya ketika Al-Qur’an diturunkan. Saat itu bahasa Arab telah mencapai puncaknya dan memiliki unsur-unsur kesempurnaan dan kehalusan di Lembaga-lembaga dan pasar bahasa. Dan Al-Qur’an berdiri tegak dihadapan para ahli Bahasa dengan sikap menantang, dengan berbagai bentuk tantangan. Volume tantangan ini kemudian secara berangsur-angsur diturunkan menjadi lebih ringan, dari sepuluh surah menjadi satu surah, dan bahkan menjadi satu pembicaraan yang serupa dengannya. Namun demikian, tidak seorangpun dari mereka sanggup menandingi atau mengimbanginya, padahal mereka adalah orang-orang sombong, tinggi hati dan pantang dikalahkan. Seandainya mereka punya kemampuan untuk meniru sedikit saja dari padanya atau mendapatkan celah-celah kelemahan di dalamnya, tentu mereka tidak akan repot-repot menghunus pedang dalam menghadapi tangan tersebut, sesudah kemampuan retorika mereka lemah dan pena mereka pecah.[10]
Kurun waktu silih berganti melewati ahli-ahli bahasa Arab, tetapi kemukjizatan Al-Qur’an tetap tegar bagai gunung yang menjulang tinggi di hadapnya semua kepala bertekuk lutut dan tunduk, tidak terpikirkan untuk mengimbanginya, apalagi megunggulinya, karena terlalu lemah dan tidak bergairah menghadapi tantangan berat ini. dan senantiasa akan tetap demikian keadaannya sampai hari kiamat.
Tidak seorang pun dapat mendakwakan bahwa menandingi Al-Qur’an itu tidak perlu, meskipun hal demikian itu sesuatu yang mungkin. Sebab, sejarah mencatat bahwa telah terpenuhi faktor-faktor kuat yang mendorong mereka untuk menandingi Al-Qur’an. Yaitu di saat mereka bersikap ingkar, menolak risalah dan pembawaannya, dan disaat Al-Qur’an mengobarkan fanatisme mereka, menganggap dungu pikirannya serta menantang mereka secara terbuka yang dapat memebagikan dendam para pengecut licik, padahal mereka orang-orang yang sombong dan tinggi hati. Maka mereka melakukan beberapa tindakanterhadap Rasulullah, menawarkan kepadanya hartadan kerajaan agar ia berhenti dari aktifitas dakwahnya disamping melakukan blokade terhadapnya dan orang-orangyang bersamanya agar mati kelaparan, juga mereka menuduhnya sebagai tukang sihir dan gila, lalu berkomplot untuk menagkap, membunuh atau mengusirnya. Akhirnya menemukan jalan satu-satunya untuk membungkam Rasulullah, yaitu dengan cara mendatangkan ke hadapannya kalam yang serupa dengan apa yang dibawanya kepada mereka. “bukankah yang demikian itu lebih mudah bagi mereka dan lebih kekal jika persoalannya ada di tangan mereka? Akan tetapi mereka menempuh segala cara kecuali cara ini. dan adalah pembunuhan, penawanan, kemiskinan dan kehinaan, semua itu dirasa lebih ringan bagi mereka dari pada menempuh jalan rumit yang mereka temukan itu, adakah kelemahan lain jika yang demikian itu bukan kelemahan?
Al-Qur’an, dimana orang Arab lumpuh untuk menandinginya itu, sebenarnya itu tidak keluar dari aturan-aturan kalam mereka, baik lafadz huruf maupun redaksinya. Tetapi Al-Qur’an memiliki jalinan huruf-huruf yang serasi, ungkapannya indah, redaksinya simpatik, ayat-ayatnya teratur, serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai macam bayanya.[11]
Hal itu telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh sastra dan para ahli pidato, seprti walid bin mughiroh, utbah bin Robi’ah dan sastrawan lain yang terkenal.
contoh sejarah:
diceritakan bahwa Walid bin Mugirah dating kepada Nabi membacakan Al-Qur’an di hadapannya, seolah-olah hati walid menjadi lembut dengannya. Berita itu sampai kepada Abu Jahal dan ia mendatanginya seraya berkata, “wahai paman walid sesungguhnya kamu hendak mengumpulkan harta untuk diberikan kepadamu, sedangkan engkau dating kepada Muhammad untuk mendapatkan anugrahnya.” Walid menjawab,” orang-orang Quraisy telah mengetahui bahwa aku adalah seorang yang paling banyak hartanya.” Abu Jahal berkata, “katakanlah salah satu ucapan yang akan kau sampaikan pada kaummu bahwa engkau memungkiri Muhammad.” Walid menjawab, “apa yang kau katakan? Demi Allah tidak ada satu orang pun diantara kamu yang lebih pandai dari pada aku tentang syair, tidak dalam bentuk prosa, tidak dalam bentuk kasidah, tidak pula dalam syair-syair jin. Demi Allah, orang yang mengatakan syair ini tidak menyamai sedikitpun dari Qur’an ini. dan demi Allah ucapannya itu manis dan indah, yang diatas berbuah yang dibawah subur.sungguh Al-Qur’an itu tinggi, tidak ada yang melebihinya. Abu Jahal terlaknat berkata.” Demi Allah kaummu tidak rela engkau mengucapkan hal itu.” Walid menjawab,” tinggalkan aku sehingga aku bisa berfikir.” Maka setelah berfikir Walid berkata:
فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ
lalu dia berkata: "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu)”
ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗاوَجَعَلۡتُ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا
Sampai dengan:
إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَفَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَثُمَّ نَظَرَثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَفَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞيُؤۡثَرُإِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَر
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia".[12]
                                    (Al-Muddaththir:18-25)



BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
Setelah menguraikan tentang mukjizat Al-Qur’an dari sisi perspektif bahasa Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang dianugrahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya. Kemukjizatan Al-Qur’an Nampak pada tantangan Allah terhadap orang-orang Arab untuk membuat semisa Al-Qur’an, namun mereka tidak bias membuatnya padahal mereka orang-orang Arab asli yang mempunyai keahlian dalam menyusun kalimat yang indah dalam bahasa Arab.
Kemukjizatan Al-Qur’an bukan semata-mata untuk melemahkan manusia, atau menyadarka mereka atas kelemahannya untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an, akan tetapi tujuan yang sebenarnya adalah untuk menjelaskan kebenaran Al-Qur’an dan Rasul yang membawanya.
Kemukjizatan Al-Qur’an meliputi gaya bahasanya, susunan kalimatnya, kandungan hokum ilahi, ketelitian redaksinya, berita gaib yang terkandung di dalamnya dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan yang ada dalam kandungannya.
Al-Qur’an disamping sebagai sumber keimanan, sumber hukum, sumber ajaran moral, sumber budaya, sumber sejarah, ia juga  merupakan sumber ilmu pengetahuan untuk memperolehnya, mengharuskan seseorang mengkaji dan memahamu Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada makna tekstualnya, tetapi harus melibatkan berbagai ilmu potensi Al-Qur’an sejak masaa turunnya hingga masa saat ini, secara komprehensip. Dalam fungsinya sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka Al-Qur’an harus diposisikan sebagai filter, pengawas dan pengendali perkembangan ilmu pengetahuan.
Karena itu meskipun terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan teoro-teori ilmu pengetahuan modern, namun Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan tetapi Al-Qur’an tetaplah kitab yang menjadi pedoman bagi seorang mukmin yangsemua kandungannya harus di imani dan di amalkan.





DAFTAR PUSAKA

Ali Ash-Shaabunniy, Mohammad. Studi Ilmu Al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Ali As-Shabuni, Mohammad. Al-Tibyan Fi ‘Ulum Al-Qur’an. Damaskus: Maktabah Al-Ghazali, 1390.
Ali Aziz, Moh. Mengenal Tuntas Al-Qur’an. Surabaya: Imtiyas, 2018.
Al-Qoththan, Syaikh Manna. Pengantar Studi Ilmu Alqur’an. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2015.
Hamid, Abdul. Pengantar Studi Al-Qur’an. Jakarta: Pranamedia Group, 2016.
Ilyas, Yunahar. Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Itqon Publishing, 2014.
M. Masyhud,  Studi Al-Qur’an. Surabaya: Dakwah Digital Press, 2009.
Mudzakir As. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bogor: Litera Antarnusa, 2016.
Shihab, M. Quraish. Mukjizat Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Yasir, Mohammad, dan Ade Jamaruddin. Studi Al-Qur’an. Riau; Cv Asa Riau, 2016.
Zuhdi Dh, Ahmad, dan Suqiyah Musafa’ah, dan Abd Kholid, dan Abid Rohman. Muflihatul Koiroh. Studi Al-Qur’an, Surabaya: Uin Sa Press, 2014.



[1]Achmad Zuhdi Dh, Suqiyah Musyafa’ah, Abd Kholid, Abid Rohman, Muflikhatul Khairoh, Studi Al-Qur’an, (Surabaya: UIN SA Press, 20140), hlm 112. 
[2] M. Masyhud, Studi Al-Qur’an, (Surabaya: dakwah Digital Press 2009), hlm, 38.   
[3] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur,an,(Bandung: Mizan), hlm. 45
[4] Ahmad Zuhdi Dh, Suqiyah Musyafa’ah, Abd Kholid, Abid Rohman, Muflikhatul Khairoh, Studi Al-Qur’an (Surabaya: UIN SA Press 2014), hlm. 114.
[5] Muhammad ‘Ali As-Shabuni, Al-Tibyan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Damaskus: Maktabah Al-Ghazali 1390 H), hlm. 105 
[6] Abdul Hamid, Pengantar Studi Al-Qur’an, (Jakarta: Prenamedia Group, 2016), hlm. 91
[7] Yunahar Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Itqon Publishing, 2014), hlm. 243.
[8] Mohammad Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, (Surabaya: Imtiyaz, 2018), hlm, 13.
[9] Muhammad Yasir, Ade Jamaruddin, Studi Al-Qur’an, (Riau: Cv Asa Riau, 2016), hlm. 23.
[10] Mudzakir As, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Bogor: Litera Antarnusa, 2016), hlm. 180.
[11] Syaikh Manna Al- Qoththan, Pengantar Ilmu Studi Al-Qur’an, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar 2015), hlm, 333.  
[12] Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy, Studi Ilmu Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 138.

sosiologi

Nama                : Nur Laili Nim                  : B01219044 KOMUNIKASI DALAM MASYARAKAT A.   Pengertian Komunikasi Massa ...